Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2015

Rumah Makan Bu Entin "Ngenah Euy"


Anda tergolong penggila seafood? Kerinduan akan seafood segar dijamin terobati di rumah makan yang ini. Ada otak-otak yang lezat, udang segar yang manis, cumi empuk, dan ikan bakar yang dijamin bakal menggoyang lidah. Semuanya disajikan serba segar dan panas mengepul!

Di seputaran pantai Carita memang tak pernah kehabisan restoran atau rumah makan yang menyajikan menu seafood. Tetapi ada sebuah rumah makan yang tak pernah saya lewatkan jika datang ke sini. Namanya Rumah Makan Bu Entin, letaknya tidak persis di Carita melainkan di sebelah selatan pantai Carita - Labuan.

Setelah puas bermain di pantai saya dan teman-teman langsung bergegas untuk mengobati rasa lapar kami. Maklum perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai tempat tersebut. Bagi kami hal tersebut bukan masalah, mengingat bayangan otak-otak gendut dan aneka seafood segar yang sudah menanti saat kami tiba nanti.

Kepulan asap dari tempat pembakaran yang ada di area depan rumah makan menjadi pertanda kehadiran RM Bu Entin. Beberapa pekerja Bu Entin sedang sibuk mengipas aneka satai seafood yang berjejer. Wuih... belum apa-apa saya sudah menelan air liur melihat aneka seafood segar yang sedang dibakar.

Saat terakhir mengunjunginya, rumah makan ini masih berpenampilan sederhana dan kini jadi tampak lebih bagus dan nyaman. Bahkan jejak renovasi masih tertinggal di bagian dalam tempat bersantap. Jejeran satai seafood ditaruh dalam etalase kaca besar wuih... sangat memancing selera. Untuk lauk-pauk pelengkap lainnya seperti sayuran urap, telur, tempe, balado terong, pepes tahu ditaruh dalam etalase lainnya.

Di tempat ini pengunjung tak perlu repot memesan makanan. Karena saat duduk sang pelayan akan langsung menyodorkan sepiring otak-otak dan bumbu kacang. Wah, tanpa dikomando kami pun langsung menyerbu otak-otak yang masih dalam keadaan mengepul hangat tersebut. 

Memang awalnya RM Bu Entin terkenal akan sajian otak-otaknya. Saat menyobek bungkusan daun pisang yang membalutnya hmm... tampak daging otak-otak yang gendut. Teksturnya kenyal dengan rasa ikan yang kuat saat dikunyah benar-benar membuat ketagihan. Apalagi setelah dicocolkan ke sambal kacang nyam nyam... pedas gurih enak! 

Saat asyik menikmati otak-otak, sang pelayan kembali membawa wadah besar berlapis daun pisang yang diatasnya terdiri dari beragam satai seafood. Ada cumi bakar, udang bakar, dan ikan kuwe bakar yang ditusuk dalam sebatang bambu. Sajian ini dilengkapi dengan sambal tomat dan sambal kecap. Kami pun menambah pepes tahu dan urap sebagai pelengkap.

Setusuk satai udang berisi 4 buah udang berukuran sedang. Tak perlu repot-repot memakai sendok garpu, karena menyantapnya mengunakan tangan makin membuatnya terasa nikmat. Kesegaran udang pun saya rasakan saat menyuapkan dagingnya yang kenyal ke dalam mulut hmm... rasanya manis sekali. Makin lezat saat dicocolkan ke sambal tomat yang terasa asam pedas. Begitu pula dengan cumi-cuminya, saat dikunyah tidak terasa alot sama sekali. Alhasil beberapa tusuk udang dan cumi telah berpindah ke dalam perut.

Untuk ikan kuwe disajikan dengan ukuran cukup besar sehingga harus dieksekusi beramai-ramai. Favorit saya adalah mencocolkan dagingnya ke sambal kecap. Eits, saking semangatnya menyantap hidangan hampir saja saya terkena ranjau rawit yang ada di dalam pepes tahu.

Yang unik sebagai pelengkap disajikan satu keranjang bambu lalapan komplet. Daun kenikir, poh-pohan, terung, kemangi, kacang panjang, timun dan tauge pendek. Tentu saja rasanya makin dahsyat saat dicocol dengan sambal sambal tomat yang asam segar.

Aneka seafood ini bukan hanya rasanya yang lezat, bahkan tangan yang digunakan untuk menyantapnya langsung pun bebas dari berbau amis. Untuk makan aneka seafood ini, kami berempat cukup menghabiskan Rp 150.000,00. Yang paling mahal adalah ikan kuwe yang dihargai Rp 30.000,00/tusuk, udang bakar Rp 15.000,00/tusuk, dan Rp 12.500/tusuk untuk cumi bakar, dan Rp 1500,00 buah untuk otak-otak.

Nah, jika lain kali jalan-jalan ke kawasan pantai Carita dan Labuan pokoknya RM Bu Entin wajib untuk disambangi. Dijamin bakal ketagihan! 

RM Ibu Entin
Spesialis Otak-Otak
Jl. Raya Labuan, Encle
Banten
(Samping Kantor Kecamatan Labuan)
Telp: 0253-802467
HP: 081321665500

Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Apem Putih Khas Pandeglang


Satu lagi makanan yang cocok menemani anda berbuka puasa. Makanan khas Pandeglang yang satu ini mudah ditemui saat bulan Ramadan. Warnanya putih bersih berbentuk kotak bertekstur kenyal. Rasa asam pada kuliner tradisional ini tidak lagi terasa saat dicocol dengan kinca (gula merah cair) atau sirup aneka rasa.

Proses pembuatannya awalnya bahan baku seperti beras direndam selama dua jam. Kemudian, beras digiling menjadi tepung dan dicampur dengan tape. Setelah adonan tercampur, selanjutnya diulek dan diberi air secukupnya, adonan dimasukkan ke dalam cetakan dari daun pisang sepet untuk dikukus sampai matang. Lalu siap disajikan.
Olahan ini dapat dijumpai di jajaran para penjual apem khas Cimanuk di Pasar Pandeglang, atau datang langsung ke pasar Cimanuk. Harganya pun terjangkau, hanya dengan Rp5000 Anda bisa membawa pulang apem putih. Apem putih juga cocok menjadi pilihan oleh-oleh berkunjung ke Pandeglang.


Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Ini kue pasung dari pandeglang


Sama seperti Jojorong, tidak ada yang tahu pasti mengapa kue ini dinamakan kue Pasung, hanya saja nama tersebut memang nama khas orang Sunda. Kue Pasung ini juga terbuat dari tepung beras, hanya saja ada adonan kue ini terdiri dari dua adonan, campuran tepung beras dan gula aren/merah, kemudian adonan tepung sagu dan santan untuk membuatnya jadi kenyal. Biasanya di dalam adonannya selain tepung beras, gula aren/merah, tepung sagu dan santan yang diuleni, ditambahkan juga potongan kelapa atau nangka sehing kue-nya lebih bertekstur dan wangi. Yang unik dari kue ini memang bentuknya yang menyerupai corong. 

Kalau daun pisang pada jojorong di bentuk kotak seperti nampan kecil, pada Pasung daunnya digulung seperti corong atau contong. Teknik memasaknya juga unik, adonan tepung beras dan gula merah dimasukkan sebanyak ¼ kedalam contong kemudian dikukus sampai mengeras kemudian diangkat dan masukkan adonan santan dan tepung sagu kemudian kukus lagi sampai matang kurang lebih 15 menit. Coba gigit pelan-pelan kue ini dari bagian paling atas, kamu akan merasakan lelehan gula aren yang manis dan tekstur adonan yang tidak terlalu kenyal. Lembut dan terasa aroma kelapanya, kemudian gigit sampai habis manisnya gula aren semakin berpadu dengan kenyalnya adonan tepung beras. Sluuurrrpp saya nulisnya sampai ngiler-ngiler ini.

Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Kue jojorong Khas Pandeglang


Banyak yang bilang kue ini seperti putri. malu, dibalik putihnya adonan tepung berasnya, coba sendok sedikit sampai kebagian dalamnya, kemudian kamu pasti akan menemukan harta karun berupa lelehan gula aren yang menggoyahkan lidah dan matamu seketika. 

Pembuatan kue ini juga sangat mudah, hanya butuh mencampurkan tepung beras dan santan kelapa mentah kemudian kita siapkan ‘ tempat atau mangkuk kuenya yang berbetuk persegi dan terbuat dari daun pisang dengan ujung-ujungnya di steples atau disemat dengan tusuk gigi. Kemudian masukkan gula aren atau bisa juga gula merah yang sudah dimasak hingga sedikit mengental namun tidak terlalu cair, baru masukkan adonan santan dan tepung berasnya, kemudian dikukus sekitar 15 menit. Uniknya Jojorong ini, kita memang seperti menebak-nebak seperti apa asli kuenya. Secara kasat mata, kue ini dari atas terlihat kaku, tapi saat disentuh dengan sendok, cussss bagian atas kue akan pecah karena memang bertekstur lembut seperti air dan bagian dalam agak sedikit lengket bergula merah.
Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Angeun Lada Pandeglang


Angeun Lada atau sayur lada, masakan berupa sayur yang dicampur dengan daging kerbau atau sapi dan menggunakan daun khas bernama daun walang yang wanginya sangat menyengat seperti binatang walang sangit.

Rasa masakan ini sangat kaya rempah dan pedas, tak salah disebut sayur lada, karena kuahnya seperti dicampur beribu lada. Sayur ini sangat terkenal di Pandeglang, karena hanya disini tumbuh daun Walang. Karena saking jarangnya orang yang memiliki tanaman Walang, sayur Angeun Lada ini juga sudah jarang ditemui di Banten. Dulunya sayur ini juga disajikan di acara tertentu seperti tahlilan, aqiqah, atau tasyakuran.

Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Balok Khas Babakan


Kue Balok adalah khas makanan dari Menes, sebuah kecamatan di Kabupaten Pandeglang Banten. Kue Balok adalah sejenis makanan yang terbuat dari singkong, berbentuk segi empat layaknya kotak, dan berwarna putih. Lembek bila disentuh dan kenyal bila sudah berada di mulut. Itulah kue Balok.

Yang unik dan khas dari makanan ini adalah penambahan dua bumbu yaitu bawang goreng yang dicampur sejenis minyak, diolesi tepat diatas potongan balok ini, tak lupa ditambah serundeng diatasnya. mau tahu rasanya? Yang jelas kalau makan satu, pasti pingin nambah rasanya.

Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

Otak-otak Pandeglang


Banten memiliki aneka ragam kuliner yang luar biasa banyaknya. Salah satunya adalah otak – otak. Otak-otak merupakan penganan khas daerah yang berada di sekitar pantai. Jenis ini adalah salah satu bentuk pemanfaat potensi sumber daya alam berupa ikan yang melimpah, sehingga dapat memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat. Labuan – Pantai Carita dan sekitarnya adalah salah satu daerah yang memiliki makanan jenis ini. Otak-otak dari Labuan sudah terkenal kelezatannya sampai keluar wilayah Banten.

Teksturnya yang lembut karena terbuat dari ikan Tenggiri yang diaduk merata dengan tepung tapioka (aci), santan, bawang putih, merica, gula pasir dan garam, serta aroma yang timbul dari daun pisang -sebagai pembungkusnya- terbakar diatas arang akan menimbulkan aroma yang sangat menggugah selera. Selain sebagai pendamping nasi, otak-otak kebanyakan dimakan tanpa nasi dengan sambal kacang yang diasang dan ditambah bumbu lain, penyajiannya bisa dicocol atau ditaburkan diatas piring.

Sumber: http://disbudpar.pandeglangkab.go.id/

SENTRA EMPING DAN KECEPREK MENES, PANDEGLANG "Buah Karya Kaum Hawa


Berawal dari coba-coba, pembuatan emping melinjo kini menjadi tumpuan ekonomi warga Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten. Usaha emping melinjo berkembang karena bahan baku yang melimpah. Uniknya, pengolahan melinjo di Menes dilakoni oleh kaum hawa.
Menes dikenal sebagai daerah penghasil emping dan keceprek. Daerah ini merupakan nama kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di Kecamatan itu terdapat puluhan usaha skala rumah tangga yang mengolah biji buah pohon melinjo (Gnetum gnemon) menjadi emping dan keceprek.
Kini, usaha pengolahan biji melinjo itu menjadi pekerjaan dan sandaran para kaum hawa di sana. Mereka mengolah melinjo menjadi emping dan keceprek.

Oh, iya, ada perbedaan antara emping dan keceprek. Emping berbentuk bulat pipih dan biasanya dikemas dalam kondisi mentah. Adapun keceprek berbentuk bulat kecil dan sudah matang sehingga bisa langsung dimakan, dan terdiri dari berbagai macam rasa.
Saat datang ke Menes, banyak pohon melinjo atau akrab disebut tangkil (Sunda) itu terpelihara dengan rapi baik di halaman rumah, belakang rumah, hingga di pematang sawah. Oleh masyarakat Menes, pohon melinjo juga menjadi tanaman penyejuk rumah.

Tapi, peran penting pohon melinjo itu adalah nilai ekonominya. Sebab, biji melinjo bisa diolah menjadi emping dan keceprek yang laris di pasar. Sedangkan daun melinjo bisa diolah menjadi sayur.
Dalam mengolah melinjo, kaum ibu di Menes bekerja di saat waktu luang, semisal pagi hari dan sore hari. Tak hanya perempuan lanjut usia, banyak juga perempuan muda bahkan anak perempuan yang masih sekolah turut mengolah melinjo.

Eliyah, salah satu perempuan asal Menes pengolah melinjo, telah mempelajari mengolah melinjo sejak 11 tahun lalu dari salah seorang temannya yang menetap di Cilegon. "Melinjo yang ditanam di rumah saya waktu itu menjadi bahan percobaan," kenang warga Desa Tegalwangi, Menes itu.

Proses coba-coba itu ternyata mendatangkan rezeki. Saat ini, Eliyah memiliki tempat pengolahan melinjo sederhana yang diberi nama Fahri Mandiri. Dengan perlengkapan sederhana juga, saban hari ada 15 orang perempuan yang membantunya mengolah melinjo. "Yang bekerja saya kasih uang Rp 100.000, terkadang bisa Rp 200.000," tutur Eliyah.

Selain Eliyah, ada juga Sarmiah, yang mengumpulkan perempuan tetangga untuk mengolah melinjo. Sejak 2001, Sarmiah sudah memproduksi emping melinjo dan keceprek yang dipasarkan hingga ke luar kota. "Pembeli biasanya datang dari Tangerang maupun dari Jakarta," ungkap Sarmiah.
Tak hanya Eliyah dan Sarmiyah yang melakoni usaha pembuatan emping dan keceprek itu. Banyak kaum hawa lain yang memiliki yang mengolah emping sendiri dari pohon melinjo yang ditanam di sekitar rumah mereka.

Namun, banyak juga perempuan Menes yang mengerjakan emping melinjo milik Eliyah. Saban pagi mereka datang ke rumah Eliyah dan mengambil biji melinjo. Mereka mengolahnya menjadi emping di rumah masing-masing. Hasil olahan itu lantas diserahkan lagi ke Eliyah untuk dikemas dan dijual. Eliyah bilang, setiap pekerja itu mendapat upah Rp 3.000 per kilogram.

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com